Kamis, 21 Maret 2013

“Emangnya kamu bisa jadi teladan buat adik-adikmu?

Itu pertanyaan yang menggelitik saya dan berasal dari seseorang yang mungkin merasa diri pantas mengatakannya karena status ekonomi dan pendidikannya saat itu. Sekarang beliau sudah menjadi seorang dokter. Tapi ah bukan karena itu diucapkan oleh orang tersebut melainkan karena muatannya.

Ya, saya anak pertama dengan dua orang adik, perempuan dan laki-laki dengan beda usia 3 dan 6 tahun. Saya cukup dipercaya untuk memilihkan jurusan mereka saat kuliah. Sembah nuwun Gusti, keluarga kami termasuk keluarga yang cukup beruntung. bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang kuliah.

Bukan berarti saya cukup berhasil dengan jurusan pilihan saya. Saya masuk di pilihan ketiga saat ujian masuk salah satu perguruan tinggi negeri di kota kami. Akan tetapi passing gradenya masih masuk menengah lah ;). 

Adik saya yang perempuan, saya sarankan masuk ke jurusan sosek pertanian (agribisnis) karena dia ingin bekerja di bank dengan penampilannya yang memang menunjang. Mengapa bukan ekonomi? Karena dia dari jurusan IPA di SMAnya dan saya mengamati bak akhir-akhir ini juga merekrut lulusan pertanian. Setelah 4 tahun lebih kuliah, lulus cum laude (padahal saya tidak, kebanyakan aktivitas organisasi, ngeles :)), dan menunggu beberapa bulan hingga akhirnya dia ketrima di salah satu bank BUMN ternama, thx God. Saya senang dan bangga sebagai kakak walau tidak bersumbangsing banyak, selain doa di salah satu biara terkenal di Ruteng yang kerap mengabulkan doa yang kita tulis karena suster-suster di sana memang suster kontemplasi yang sehari-harinya berdoa.

Adik laki-laki saya sekarang masih di semester 4 bangku kuliah. Dia di jurusan sosiologi sama seperti saya dan adik perempuan saya di perguruan tinggi negeri di kota kami. Itu juga jurusan yang saya bantu pilih. Awalnya dia ingin masuk arkeologi namun kami mengarahkan pada sosiologi. Sebenarnya tak dinyana, adik saya ini masuk di pilihan pertama, tidak seperti kakak-kakaknya. Dia kurang lebih mirip dengan saya dengan cara yang berbeda, kami sama-sama aktif di organisasi, dia di mapala, saya di organisasi lain. Sampai dia pernah cuti kuliah satu minggu untuk kegiatan mapala o la la. Semoga dia bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan juga. Salah satu mimpinya adalah keliling Indonesia, mengingatkan mimpi saya dulu.

Entah apa saya bisa dibilang bisa menjadi teladan atau tidak buat adik-adik saya, itu bukan hal yang penting. Akan tetapi saya berpikir saya yang memang tidak suka banyak berbicara (karena kata-kata kita harus dipertanggungjawabkan) dan lebih suka berbuat beranggapan bahwa sampai saat ini kami masih lumayan. Hal ini akan diuji waktu. Semoga kita bisa berbuat sedikit saja untuk keluarga kita karena mau tidak mau kita menyadari bahwa keluarga adalah dasar utama bagi komunitas, negara, bahkan yah dunia.

Rabu, 06 Maret 2013

Semangat yang berasal dari AC Milan


en.wikipedia.org


Saya sebenarnya tidak ingat jelas kapan pertama kali saya suka nonton bola. Hal yang cukup saya ingat, waktu duduk di bangku SMP, saya mempunyai teman-teman perempuan yang tergolong tomboy dan menyukai bola. Salah satu hari yang menyenangkan adalah hari senin, saat kami bercerita tentang pertandingan malam sebelumnya. Bukan berarti tim favorit kami sama, sebagai contoh: saya sangat mengidolakan AC Milan dan Paolo Maldini saat itu. Ada teman yang menjagokan Juventus dan Del Pieronya, ada yang menyukai David Beckham dan MUnya.

Jangan-jangan teman-teman tidak tahu siapa itu Paolo Maldini? Dia adalah pemain legendaris AC Milan, yang bermain hanya untuk klub AC Milan saja dari sejak dia dididik di sekolah sepak bola AC Milan sampai dia gantung sepatu di tahun 2009. Yah dia dah pensiun siy, kan regenerasi, tetapi tetap saja dia jadi idola saya.

Mengapa dia bisa menjadi idola saya? Yah, awalnya saya menyukai pemain yang banyak disukai teman-teman yang lain, sebut saja David Beckham dan Inzaghi yang kala itu bermain untuk Juventus. Namun saya berpikir, apa istimewanya saya jika saya juga mneyukai tim dan pemain yang sama dengan teman saya, maka tertambatlah hati saya (dalam hal sepak bola tentunya-red) pada sosok bek kiri AC Milan yang juga kapten di timnya. Selain sebagai bek yang tangguh, terkadang dia juga dapat mencetak gol Maldini punya mata yang biru dan tentu saja sosok yang tidak bisa dilewatkan, halah susah banget bilang ganteng J Dia juga punya keluarga yang harmonis (tidak kawin cerai) bahkan dia menjadi duta UNICEF mungkin salah satunya karena dia punya pabrik mainan anak-anak. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menjadikannya idola.

Saya sempat mempopulerkan diri sebagai Ajeng Sumal-mal dari nama Maldini sampai saya SMA. Bahkan tanda tangan saya yang sampai sekarang saya gunakan merupakan inisial dari klub AC Milan dan Juventus, o la la. Mau mengubahnya tetapi tanda tangan itu sudah beredar di berbagai tempat. Bahkan saat kemarin Maldini,dkk melawat ke Indonesia sebagai tim AC Milan Glorie melawan timnas Indonesia, beberapa keluarga menghubungi saya karena mereka tahu betul saya menyukai Maldini.

Dulu, kamar saya sempat dipenuhi poster Maldini dan AC Milan, sampai sekarang barang-barang berbau AC Milan masih ada di rumah kami di Jogja dan saya hibahkan kepada adik laki-laki saya. Sampai-sampai dia juga menyukai AC Milan. Namun suatu waktu saat Italia kalah dari Korsel di Piala Dunia 2002, saya memutuskan untuk mencopot poster-poster itu. Bukan berarti saya berhenti menyukai Italia, saya sakit hati pada wasit yang memimpin pertandingan itu. Saya bahkan membuat email (yang sampai sekarang masih aktif) yang artinya adalah tidak ada wasit yang baik J Sekarang saya baru tersadar ketika kita begitu menyukai suatu hal, terkadang kita mencari kambing hitam atas kegagalan hal tersebut, entah waktu itu wasitnya bagaimana tetapi yah begitulah.     

Sempat sekitar 1,5 tahun saat saya bekerja di Flores, saya tinggal di kontrakan tanpa TV, alhasil tidak pernah nonton bola. Sekarang setelah menikah dan ada TV di kontrakan kami, tetap tidak nonton bola, karena pagi banget euy. Tetapi sekarang, saya mengikuti hasil pertandingan AC Milan meski tidak lagi diperkuat Il Capitano, Maldini. AC Milan masih menawan dengan menjadi nomer 3 di liga sampai minggu ini dan menang melawan Barcelona di Babak 16 besar Liga Champions. Memang masih ada laga tandang di kandang Barca, tetapi AC Milan selalu juara di hati saya. Ternyata bola bisa membuat saya menemukan kembali semangat seperti ketika saya SMP, ketika hari senin kami bisa diskusi tentang bola, kali ini dengan keluarga dan teman-teman kantor.

Selasa, 26 Februari 2013

Renungan Sebelum Berusia 27 tahun




Beberapa waktu terakhir ini, kerap kali merefleksikan hidup. Terkadang muncul lagi pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang, baik yang terlalu positif mengenai pilihan hidup jauh dari hiruk pikuk popularitas ataupun yang meragukan mengenai pilihan ini. Entah mana yang benar, itu harus dijawab seumur hidup.

Terkadang muncul sebersit jawaban, jangan-jangan memang benar jauh-jauh ke kota (yang mungkin banyak orang tidak tahu kalau ada nama kota ini di Indonesia) hanya untuk materi. Tetapi hal itu juga tersanggah pada gaya hidup yang bisa dibilang minimalis. Seingat saya, kalau masalah pakaian yang tiap hari atau bulan mungkin orang bisa beli, mungkin terakhir saya membeli dua lembar pakaian, itupun mengingat kondisi saya yang sedang hamil sehingga tidak memungkinkan pakai yang lama. Atau masalah telpon seluler saya yang seharga 500ribu sekitar 1 tahun 3 bulan yang lalu dan saya pun tidak mau beralih pada gadget lain yang lebih canggih, nettbook saya yang rusak beberapa bulan lalu pun masih tergolek dan saya pun tidak berencana membeli yang baru. Untuk apa di kantor sudah ada komputer dan di rumah juga ada laptop.

Mungkin kesannya saya pelit pada diri saya sendiri padahal dari segi penghasilan tidak sedikit-sedikit amat. Mungkin pengeluaran saya lebih banyak untuk makanan, semacam mengikuti pepatah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, selain untuk kebutuhan nutrisi yang jadi kebutuhan mendesak janin di dalam kandungan. Tetapi bukan berarti hanya habis untuk itu saja, ada pos untuk tabungan dan asuransi, untuk jaga-jaga kalau-kalau kena sakit berat, tabungan bisa lenyap dalam sekejap.
Mengingat tokoh polisi keren yang tidak korupsi (mungkin satu-satunya) di negara kita yaitu Alhm.Bapak Hoegeng yang baru bisa beli rumah setelah pensiun, yah kadang berpikir kalau kita kerja lurus-lurus mungkin untuk membeli properti yang harganya selangit memang tidak mudah. Walau kita bisa saja membeli dengan cara mencicil tetapi sekali lagi di kota nun jauh dari rinai kenyamanan seperti di kota-kota besar di Jawa misalnya, sampai sekarang saya belum dapat info tentang kredit rumah.

Terkadang memang mellow melihat kehebatan teman-teman dengan jabatan a, b, c, d atau yang memiliki kemewahan a, b, c, d atau yang mempunyai gelar a, b, c, d. Itu semua terasa jauh dari pemikiran. Bukan berarti tidak bisa, tetapi ada prioritas lain yang lebih mendesak, keluarga dan panggilan (jiah bahasa roh halus).

Kemarin saya membaca artikel mengenai Sal Khan yang menjadi idola seorang Bil Gates. Dia memilih menjadi pembuat materi pembelajaran melalui internet secara cuma-cuma dengan alasan dia sudah bahagia dengan rumah, 2 mobil, dan keluarganya. Bagi saya, di tengah dunia yang begitu menuntut akan keberhasilan yang dihitung dengan materi, hal itu sangat luar biasa, yah meski dia masih membutuhkan rumah dan mobil.

Tentu saja saya jauh sekali dibandingkan (bisa jadi tidak dapat dibandingkan) dengan Sal Khan. Saya masih sering kali meragukan pilihan saya namun saya teringat saya hanya manusia biasa yang terbiasa dengan kenyamanan. Saya yang terbiasa dengan keluarga saya yang begitu menyayangi saya, hangatnya mentari, mudahnya mengakses tempat-tempat hiburan seperti mall, bioskop dan rumah makan, orang-orang yang tidak terlalu peduli bila saya melakukan a, b, c, d yang (seakan-akan) menghargai pilihan saya.

Tantangan di sini memang tidak mudah, cuaca di awal tahun seperti ini yang dingin karena hujan angin sehingga membuat kita lebih nyaman di rumah, pilihan rumah makan yang terbatas dan dengan harga yang relatif lebih mahal, keterbatasan tempat rekreasi, orang-orang yang karena mungkin hidupnya tidak senyaman di tempat kami dulu sehingga terkadang harus diberikan energi ekstra untuk membuat kami sama-sama nyaman, dan orang-orang yang terkadang terlalu peduli sehingga yah begitulah. Bukan berarti di sini sama sekali tidak nyaman, saya mendapatkan keluarga baru yang bahkan bisa jadi lebih hangat dan keluarga kecil kami yang baru kami bangun menjadi obat di setiap kekurangnyamanan.

Di tengah segala kekurangnyamanan yang sudah 2 tahun lebih saya alami, saya mulai melihat banyak hal yang menarik. Bisa jadi, puskesmas pembantu di belakang rumah kami di Jogja secara bangunan fisik lebih baik dari puskesmas kota ini. Fasilitas kesehatan yang minim serta tenaga kesehatan yang tidak mendapatkan penghasilan yang sesuai, kurangnya persaingan dan pengalaman membuat begitu banyak masalah ketidakpuasan mengenai kesehatan di kota ini. Berhubung latar belakang saya kesehatan, tentu saja saya lebih bisa berbicara banyak mengenai itu.

Belum lagi masalah kurang gizi yang terus melanda kabupaten ini, yang mungkin di tempat lain sudah beranjak ke masalah gizi lebih. Bukan berarti itu karena budaya yang kurang baik justru budaya yang terlalu baik, budaya yang sering berbagi. Hal yang sudah ditinggalkan di rinai kota besar sana. Dari acara pernikahan, kematian, sekolah yang dibuat semacam acara makan-makan untuk mengumpulkan uang sampai mereka lupa bahwa mereka juga butuh menyisihkan uang di masa-masa berat seperti awal tahun yang dari segi pertanian dan perkebunan tidak menghasilkan.

Kadang, saya sendiri merasa letih dengan ketidakmampuan saya untuk berbuat sesuatu, meskipun saya bekerja di yayasan sosial tetap saja saya hanya lah manusia biasa yang juga punya ketakutan jika saya terlalu vokal, orang-orang dengan kedekatan emosional cukup tinggi ternyata punya kerentanan untuk tersakiti, sehingga saya harus menjaga diri. Itulah mengapa saya memilih untuk tidak banyak berbicara namun bekerja meski itu juga menuai kontra. Ah hidup memang harus ada pro kontra. Namun ditengah terjangan segala keraguan terutama dari diri saya sendiri dalam menjalani hidup yang tidak lagi senyaman dulu, saya hanya berharap meskipun semua orang meragukan saya ada Sesuatu yang lebih besar dari kita yang tidak pernah meragukan saya. Seakan mengelus kepala saya dan berkata, ”SahabatKu, kamu akan baik-baik saja.” Sebab keraguan saya dan mungkin juga orang lain, bagi Dia adalah salib kecil yang harus dipikul sebelum saya naik kelas.


Rabu, 02 Januari 2013

Genk Lebdosari


tadi malam, seorang sahabat baik mengirim pesan singkat:
Dear teman2, ayooo ke paragon
jadi ingat masa2 22 bulan di Semarang (2008-2010).......

setelah ujian skripsi, saya nekat memasukkan lamaran kerjaan padahal belum wisuda
tapi thx God, saya ketrima di salah satu perusahaan swasta di Semarang
jadi 2 bulan setelah wisuda, saya langsung kerja

saya diantar oleh seluruh keluarga ke Semarang
saya masih ingat betul, sepanjang perjalanan, perut saya sangat sakit
biasa, penyakit bulanan, mungkin dysmenorrhea, entahlah,
sampai hari ini saya belum periksakan itu ke dokter

di Semarang, kami disambut rinai hujan, untung kami dapat kos-kosan, dekat dengan kantor
bisa jalan kaki, hargapun terjangkau yak bungkus..
kami sekeluarga sempat jalan-jalan ke mall
setelah itu keluarga pulang, yang paling sedih tentu saja Mama, bahkan berhari-hari setelahnya
maklum baru kali ini saya keluar dari kota kami tercinta, Jogja
saya pun juga, malam kesendirian pertama di kos itu saya habiskan dengan sms banyak teman

ternyata di kos itu terdapat Mbak-Mbak yang begitu luar biasa
1. Mbak Sari, pekerja keras yang bekerja sambil kuliah s2
kuliahnya pun ga main-main di Salatiga, jadi tiap akhir pekan pulang rumah untuk kuliah, hebat ^^
2. Mbak Diana yang merupakan petinggi di salah satu perusahaan swasta di Semarang, keren :)
3. Mbak Yeni yang merupakan salah satu penghuni terdahulu di kos-kosan bersama mbak Di
4. Mbak Santi yang lumayan sering ke Kabupaten lain untuk tugas kerja
5. Mbak Dewi yang juga berasal dari Jogja, seperti saya
6. Mbak Cici dan Mbak Tuti yang sekantor dengan mbak Santi
7. Meika, teman kuliah saya yang kerja di rumah sakit Semarang
8. Ami yang awalnya buat heboh di kos hehe tapi salut dengan prinsipnya yang harus habis
setiap kali makan ^^ (ga kayak saya hihi)

Yang ga terlupakan adalah:
A. Sarapan seharga 1.500 rupiah yang biasa kami beli di dekat kos (menu:nasi,sayur, dan gorengan)
B. Jalan2 bareng ke Gunung Bromo (jalan kaki setengah hidup sampai atas nyanyi Dengar Dia Panggil Nama Saya hehe), Bandung (sampai pagi nonton Harry Potter), Solo+Sukoharjo (ke rumah Mbak Di, Mbak Tuti dan Mbak Santi) dan Jogja (main ke rumah saya dan Mbak Dewi), what next Sistas? Pulau Komodo ya:))
C. Kita suka ngerjain mbak Sari untuk traktir kita ke Pizza Hut, dll
D. Nangis bareng waktu liat My Name is Khan di Paragon
E. Kadang2 berantem juga, hehe peristiwa di Ibis, dll
F. Ngobrol ngalor ngidul a sampai z sambil nonton tv di ruang tv (sampai terkantuk2 ^^)
curhatan saya yang paling sering adalah atasan saya yang lmyn keras, maklum saya kan baru
pertama kali kerja *ngeles.com*

G. Pesta ultah saya di kos dan perpisahan yang mengharu biru
H. Buat seragam untuk nikahan Meika yang sayangnya saya sudah pindah ke NTT jadi saya ga
bisa datang :(
I. Mbak Sari, Mbak Diana, Mbak Ye, Mbak Cici datang ke nikahan saya beberapa waktu lalu, sayangnya yang lain tidak bisa datang karena sudah di luar kota atau ada kesibukan.


Kami selalu berharap cerita-cerita kami, genk Lebdosari dapat didokumentasikan (ditulis
maksud saya ^^). Sayangnya banyak yang saya sudah lupa tapi yang pasti semua ga terlupakan.
Nanti kalau ingat saya tulis lagi :))

Miss u and love u all Sistas ^___^


Kamis, 24 Mei 2012

Kisah klasik keluarga (di desa Lando)




            Kisah tentang seorang anak kelas 4 SD di desa Lando, Cibal, Manggarai bernama Patris. Dia anak laki-laki dari 8 bersaudara. Keluarganya miskin, tidak punya sawah. Rumahnya sangat sederhana dari kayu dan berlantai tanah.
            Cerita dimulai pagi hari, seluruh keluarga bangun tidur dan hanya cuci muka karena kesulitan air lalu anak-anak berkumpul untuk sarapan nasi putih dan kopi, termasuk juga untuk adik Patris paling kecil bernama Mery yang berusia 2 tahun sementara orang tua sudah dulu makan lalu berangkat kerja. Mereka tidak cuci tangan sebelum makan, makan dengan tangan di mana kuku belum dipotong dan kotor. Usia antara saudara adalah 2 tahun, jadi ada 3 saudara lain di antara mereka dan 3 kakak Patris. Mery sangat kurus beratnya hanya 5 kg, dia berstatus gizi buruk. Dia pernah mendapat Program PMT (Pemberian Makanan Tambahan) namun berat badannya hanya naik untuk sementara lalu turun kembali. Sebagian PMT pun harus dibagi untuk kakak-kakaknya.
            Selanjutnya Patris berjalan ke sekolah dengan menggunakan sandal dan membawa buku dalam tas plastik. Sekolahnya adalah SDI Lando, sekitar 45 menit jalan kaki dari rumahnya dengan topografi berbatu-batu dan jalan menurun curam. Dia masuk ke kelasnya yang rusak dindingnya. Terdapat 3 ruangan kelas yang rusak dari total 6 kelas. Guru datang terlambat karena sekolah jauh. Saat guru mengajar Patris tidak bisa konsentrasi karena hanya sarapan nasi kopi dan perjalanan jauh yang melelahkan menuju sekolah. Karena permasalahan air dan tidak ada toilet. Patris buang air kecil sembarangan di pohon belakang sekolah.
            Patris pulang dengan menempuh perjalanan yang jauh. Kemudian dia membantu Ibunya mencari kayu, mencari air untuk memasak nasi, menemani adiknya. Dia tidak sempat bermain. Dia tidak sempat tidur siang. Mereka hanya makan nasi dengan sayur daun singkong. Mery makan nasi dengan kuahnya saja.
            Selanjutnya terdapat acara desa yaitu Penti karena keberhasilan panen. Acara tersebut dilakukan di rumah Gendang, rumah adat di desanya. Acara tersebut menampilkan tarian caci. Patris setiap hari berlatih tarian tersebut. Keluarganya menyumbangkan babi yang mereka pelihara dengan segala kekurangan mereka. Mereka makan daging dengan puas dan banyak saat acara tersebut karena mereka jarang makan daging.
            Keesokan harinya adalah hari posyandu. Kali ini posyandu ramai karena kepala desa dan perangkatnya, tokoh masyarakat dan adat datang. Ibu kader posyandu baru saja pulang pelatihan di kota Ruteng mengenai pos gizi dengan pendekatan positive deviance. Bu kader menjelaskan bahwa untuk balita-balita kurus seperti Mery akan diadakan pos gizi, di mana selama 10 hari Mery dan ibunya akan berkumpul bersama balita-balita kurus lain untuk mengolah makanan dan belajar tentang 4 aspek penting yang berkaitan dengan status gizi yaitu asupan makanan, kebersihan, pelayanan kesehatan, dan perawatan anak (parenting). Bu kader sebelumnya sudah mengunjungi ibu dengan status ekonomi kurang namun anaknya status gizi baik dan belajar 4 aspek itu serta membandingkan dengan ibu dengan status ekonomi sama namun anaknya status gizi buruk atau kurang.
            Bu kader lebih lanjut menerangkan bahwa Mery dan 9 balita lain diharapkan membawa bahan makanan yaitu daun ketela rambat dan telur ayam kampung bergantian dengan daun katuk dan kacang hijau. Ibu dari Mery berkeberatan karena masalah ekonomi, tidak bisa membawa telur dan kacang hijau. Untung para tokoh masyarakat mau membantu kesulitan bu Mery dan beberapa Ibu lain.
            Pada hari pos gizi, Ibu dari Mery membawa daun ketela rambat. Dia baru tahu kalau daun ketela rambat bisa dimasak. Selama ini dia gunakan untuk makanan babi, babi lebih gemuk dari anaknya. Babi akan digunakan untuk acara adat. Dalam pos gizi, Ibu kader menjelaskan pentingnya parenting, hal sederhana seperti menemani anak saat makan, tidak membiarkan anak makan sendiri. Karena memang Mery selama ini makan dengan kakaknya Patris dan Patris yang sering habiskan makan. Patris melakukannya karena Bapa marah jika Mery tidak habis makannya karena dia kerja keras untuk mendapatkan makanan tersebut. Bu Kader juga menekankan kebersihan, semua anak harus potong kuku, Mery yang kukunya paling hitam. Mereka juga cuci tangan sebelum makan bersama. Setelah 10 hari, berat badan Mery naik 400 gram, dia lulus.
Dilakukan monitoring berat badan Mery selama 6 bulan, ternyata dia sudah masuk ke gizi baik. Terdapat perayaan kecil di desa mengundang pihak terkait dan semua berkontribusi untuk acara makan sederhana dengan menu gizi seimbang yang ditekankan ibu kader. Mereka makan nasi, tempe, dan telur ayam kampung. Dari 10 anak pos gizi, 6 anak berstatus gizi baik. 

Minggu, 13 November 2011

sakit tidak sakit

masih terekam dengan baik rapat terbatas hari senin lalu
rapat yang jarang sekali dilakukan dan sifatnya strategis
namun bukan itu yang akan saya ceritakan
melainkan rasa sakit yang saya rasakan saat itu
rasa sakit yang akan diikuti rasa sakit lain yang tak terlupakan

saya kira waktu itu masuk angin atau kecapekan
hingga selasa saya minum salah satu obat cair tradisional
yang mengobati masuk angin serta vitamin c, badan saya lumayan

rabunya saya masih pusing, jadi saya ke dokter gigi
ternyata benar, geraham belakang saya tidak punya ruang untuk tumbuh
dokter memberikan 2 jenis obat: antibiotik dan penghilang sakit plus vitamin c
rabu malam saya bisa tidur nyenyak

kamis malam, badan saya panas dingin, tulang-tulang saya nyeri
semalaman saya sulit tidur
begitu juga jumat malam, saya nekat minum obat penghilang sakit
yang belum pernah saya minum karena saya ingat dokter bilang
"Diminum ketika sakit"

saya berasumsi ketika gigi sakit
eh ternyata obat itu sangat ampuh untuk hilangkan nyeri di tulang
yah tahu gitu, kamis malam saya minum dan nyeri tak separah yg saya rasakan

sabtu badan masih agak lemah sampai minggu siang
sempat teringat, hanya mengalami sakit yang panjang saat sma
saat terserang demam berdarah
ternyata gigi geraham tumbuh pun sakitnya ga ketulungan, seminggu juga

minggu malam setelah antibiotik habis, langsung ke dokter gigi
untuk pertama kalinya dibius lalu gusi dibelah
rasanya unik, gusi diobrak-abrik tapi enggak sakit
padahal darah lumayan banyak karena ternyata 1/2 geraham di bawah gusi

sekitar setengah jam pasrah di bawah dokter gigi
untuk bius lumayan lama, jadi masih sempet makan ikan santan juga :))

seninnya merasa sangat sehat setelah seminggu kehilangan semangat kerja
senengnya senin itu...
berharap selasa juga sehat...eh pagi-pagi pusing....
ternyata kedatangan tamu bulanan yang biasanya dua bulan sekali sakit
eh ini bulan lalu dah sakit, bulan ini juga sakit T_T

alhasil, berhari-hari bertahan untuk enggak ijin sakit
ijin lah akhirnya, setengah hari lalu tergolek di kamar tidur

untungnya sore sudah lumayan fit, rabu pun lumayan fit walau agak lemas
kamis menjadi awal yang gemilang dari badan saya yang sehat kembali
dilanjutkan dengan hari-hari berikutnya

harus menjaga tubuh dengan lebih baik lagi
apalagi geraham bagian kanan, terancam dibelah juga gusinya
tetap sehat tetap semangat
setelah berhari-hari tidak enak badan
bahagia sekali menjadi sehat dan bersemangat ^___^
(terima kasih atas pelajaran besar ini Tuhan :>)

Minggu, 23 Oktober 2011

Sahabat ke Ruteng



seorang sahabat yang bekerja di bali seminggu yang lalu ke ruteng
bagi saya itu hal yang sangat sangat menyenangkan
baru kali ini seorang sahabat berkunjung ke ruteng

sayangnya, dua minggu yang lalu saya baru saja ke labuan bajo
sehingga saya tidak bisa menemaninya ke pulau rinca dan bidadari
apalagi saat sahabat saya ke sana berbarengan dengan rapat kantor
sahabat tersebut sampai di ruteng jumat lalu

sayangnya kondisi fisik saya sedang kurang fit
ditambah hari sabtu saya sudah membuat janji kegiatan di desa
alhasil sahabat ikut kegiatan di desa

dia kagum dengan desa yang berada di lembah
katanya desa itu seperti desa di film king
dia mengikuti kegiatan dengan balita-balita kurang gizi di pos gizi
puji Tuhan,dari 11 balita kurang gizi, 6 balita naik berat badan

setelah itu, kami ke wae naong
sungai perbatasan manggarai dengan manggarai timur
terdapat gua dan pemandangan yang indah
kami membakar ikan di sana
walau lupa membawa garam, semua makanan ketika lapar jadi maknyus!

selanjutnya kami kembali ke ruteng
sahabat mencari kain dari manggarai, sayang sudah sore sehingga banyak yang tutup
dia menemukan kain seharga 50 ribu, cukup mahal dibandingkan biasanya
malamnya kami istirahat cepat karena flu saya semakin parah
minggu, sahabat kembali ke labuan bajo dengan travel
dilanjutkan pesawat ke bali
berharap dia datang lagi untuk dapat jalan-jalan lebih puas lagi
ke wae rebo, pulau mules, dintor, sawah cancar :)
---------------------------